Friday, 22 July 2011

Bungkam Mulutmu Sendiri

"Dia bajingan, dia telah banyak berbohong kepadaku!"

Itu mungkin perkataan yang selalu kau umbar,
kepada setiap teman dekatmu,
untuk menghujat diriku hingga sekarang.

Kini ku bawa kau ke masa lalu,
ketika berawal dari bulan yang penuh pendekatan,
ku dapati dirimu begitu indah perangainya,
hingga ku yakin saja dirimu itu indah di hadapan mataku.

Namun sayang,
aku tak sadar bahwa jiwa iblis,
yang ada dalam akal busukmu itu,
bersembunyi sempurna hingga kini menjadi bumerang bagiku,
sekarang, dengan sejuta ocehan anak kecilmu,
yang ku anggap kini sebagai bahan tertawaanku,
aku yang terkadang tersulut oleh amarah,
berkata, "Bungkam Mulutmu Sendiri!"

Kau selalu bilang aku menkhianatimu,
kurasa malah dirimu yang mengkhianati ucapanmu sendiri,
yang berkata selalu penuh kehambaan,
baru sadar aku semuanya,
bahwa Iblis yang nyata itu adalah kamu.

Jika kamu bisa menghujat Tuhanku,
dengan semua keluh kesah kekesalan kekanak-kanakanmu itu,
ijinkan aku memberimu sebuah permen lolipop,
yang selalu anak-anak kecil idolakan sebagai jajanan favoritnya.

Sekali lagi ku katakan,
"Bungkam Mulutmu Sendiri!"
karena Tuhan pun tau,
siapa yang salah disini,
tanpa kau umbar ucapan busukmu itu.

Monday, 18 July 2011

Nyanyian Seorang Pendusta

Akhirnya kutangkap juga isyarat itu,
Lengkingan yang mememarkan jiwaku, menyayat telingaku
Kulihat sinis tersenyum disudut ruang
Tapi masih terdengar syair-syair perihmu
Lewat ventilasi yang masih terbuka
Memompa darah untuk bicra sekerasnya

Kini telah kudapati
Sebab tubuhku kini terbakar dan mengepulkan kekecewaan
Walau luka terasa ringan hingga terlupakan
Tapi masih kucari sorot matamu
Sampai aku dapat teguh menggenggam janji-janjiku
           

Tak Tahu

Engkau tertegun didepan kata
Cakrawala tiada lagi menggambarkan awal pertikaian
Engkau dan aku hanya langit biru dan putih awan
Yang indah menghiasi cakrawala alam
Ku ingin kau menjadi gairah
Tapi hatiku tersayat, terluka bagi jiwa masa lalu yang teraniaya
Kutangkap sepi di matamu yang biru,
Kucintai malam seperti kau bersahabat dengan kantuk
Yang membawamu dalam mimpi-mimpi

Adakah sedikit kata dalam gelap
Saat pergi dan kembali
Ku tak harap apapun, tak mengharap
Siapapun, juga tak mengharap engkau
Nafasku terhenti kala hening
Dipucuk kebisuan
Kuingin buat senyum
Dalam bebas angin berontak
Bergelegar takdir mengalir arus air
Tertegun kepasrahan masa lalu dan mimpi

Tanyaku Tentang Cinta

Kerinduan telah kuungkapkan
Cinta telah kuikrarkan
Setia telah kujanjikan

Namun tak percaya juga dirimu
Setelah berjuta-juta rayuku
Berjuta-juta ungkapan hatiku

Tak ku temu cintamu
Didepan rona mataku
Dibayang penantian cintamu

Jiwa Yang Terbangunkan

Engkau…
adalah bunga
yangmemancarkan nur keimanan
dari kaki bukit purnama tahmid
aku bangunkan jiwa
agar dapat merubah, menggiring
jiwaku ke singgasana dzikir
Fitrahku hanya kembali pada-Nya

Hening...
Bisu ???
Mengalirkan bening
Tetes air mata membasahi pipi

Setetes embun
mengirimkan riak adzan
menjamah kesunyian malam
mengalahkan berhala-berhala kehidupan
ku bertasbih pada-Nya