Sunday, 16 October 2011

Ketulusan

Akal dan pikiranku bak menerawang
Khayal dan impianku terbang melayang
Sesaat kau pertanyakan tentang tulusnya cinta

Apakah cintamu tulus untukku?
Apakah setiamu kan selalu untukku?
Tanyamu membuat gundah kalbuku

Ketulusan cinta takkan terukir harta dan nyawa
Waktu takkan dapat memperhitungkan ketulusan
Ketulusan takkan berubah ditelan zaman
Setiaku hanyalah untukmu pemilik cinta sejati

Misteri Diri

Memang telah cukup lama
Waktu telah berlalu
Malam pun telah berganti siang
Memang itu telah kodrati

Cukup lama memang
Dunia ini telah dicipta
Berjuta tahun lalu Adam dan Hawa dicipta
Cukup kita ketahui memang

Memang telah cukup lama
Waktu pertemuan kau dan aku
Hari pun telah kita lalui
Memang itu cerita indah

Cukup lama rupanya
Perasaan bimbang dan tanya
Berjuta tanyaku akan pribadimu
Cukuplah mungkin tinggal menjadi misteri

Misteri diri
Mungkin hal ini kan abadi
Tapi ku percaya pasti
Kau buka pintu dirimu
Agar ku tau jati dirimu

Sunday, 9 October 2011

Dalam Sepi Ku Mencinta

Ku termenung akan dirimu,
ku termangun akan sikapmu,
ku tertunduk akan pandanganmu,
ku terlamun akan ucapanmu.

Dirimu gadis pujaanku,
sikapmu membuatku menerawang,
pandanganmu memancarkan kedamaian,
ucapanmu luluhkan hatiku.

Tapi apa daya diriku,
sepi yang kini menghampiriku,
disaat kau jauh dari pandanganku,
tetapi dirimu tetap dihatiku.

Dalam kesepian ku mencinta,
mencinta kasih yang kini tak disisiku,
bayang dirimu dalam hatiku,
yang akan selalu temani hidupku.

Sunday, 25 September 2011

Dalam Anganku

Di jiwa ini terdapat bahasa yang mengalun indah,
ku mencoba mengungkapkannya,
dan selalu mencobanya.

Namun, apa dayaku,
pandangan matamu menghancurkan jiwaku,
kata-kata yang telah kususun semua dalam anganku,
seketika sirna saat melihat pandanganmu.

Mungkin aku sebuah karang,
yang bisa menyakitimu,
tapi jika kamu tau,
sedikitpun tidak ingin karang ini menyakitimu.

Dengan segenap cinta aku bertanya,
kau inginkan karang ini seperti apa,
hingga membuatmu nyaman,
dan tak merasa tersakiti?

Karang kokoh ini akan hancur,
lebur dan meluber oleh terpaan ombak,
jika kau tak membuatnya senyaman mungkin.

Karang ini terlubangi oleh masa kelamnya,
sebelum kau singgah dan berlindung padanya,
tetaplah berada disandaranmu,
dan berusahalah tutup lubang itu.

Terpaan ombak masih menghantamku,
dan tak pernah ku lewati,
rasa sakitku saat menyakitimu,
karena karang ini lemah tanpamu.

Kau Yang Mengajariku Arti Kehidupan

Penglihatanmu memang tak berfungsi,
tapi bukan itu yang buatku menjauh,
tapi lantas aku mendekat,
dan menjalin persahabatan denganmu.

Kau memang tak melihat,
tapi hatimu lebih tajam dari pandangan matamu,
kau yang selama ini berikan arti kehidupan,
kau yang selalu bersabar di atas semua cemoohan,
aku salut padamu,
karena aku tidaklah bisa sesabar dirimu.

Biarlah Tuhan membawamu kembali,
sepi itu sekarang milikmu,
sebab kelak juga ia akan menjadi milik siapa saja,
aku, dia, ataupun mereka.

Cerita telah selesai dimainkan dengan baik,
tanpa cela dusta pura-pura,
tidurlah dengan nyenyak paling nyenyak.

Embun hati di basah hijau rumputan,
nanti terus lahir meneduhkanmu dari panas matahari,
mungkin juga bisa gelap paling dan tergelap,
tak luput bersahutan terhampar menjadi hutan.

Selamat tinggal sahabat,
terucap syukurku karena telah mengenalmu,
terucap terimakasih padamu,
yang mengajariku arti kehidupan.